Jumat, 01 April 2011

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA MENURUT ALKITAB

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA MENURUT ALKITAB

(Oleh: Pdt. Cecep Soeparman, bahan diambil dari Mansor dengan tambahan dan perubahan seperlunya)

Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang... ” (Pkh 7:12)

I. PENDAHULUAN

Uang adalah salah satu faktor yang penting dalam sebuah keluarga. Tidak semua orang memiliki banyak uang untuk dipakai. Ada sebagian orang yang hidup dengan uang yang sangat sedikit. Berapa pun banyaknya uang yang kita miliki harus dikelola dengan baik, karena uang yang tidak dikelola dengan baik akan berbahaya. Uang akan menjadi hamba yang baik tetapi uang akan menjadi majikan yang kejam. Alkitab berkata akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang (1 Tim 6:10). Intinya bukan pada uang, karena uang adalah netral dan tidak dosa. Intinya adalah bagaimana sikap kita terhadap uang.

Apakah kondisi keuangan Anda terus menerus pas-pasan saja atau malah defisit, walaupun sebetulnya pendapatan Anda relative besar? Lalu ke mana perginya uang Anda? Masalahnya mungkin terletak di dalam mengelola keuangan. Banyak orang bermasalah dengan uang karena tidak bisa mengelola keuangan dengan bijak. Seberapa besar atau kecil pun uang yang kita dapatkan, kita perlu menjadi bijak dan terampil di dalam mengelolanya supaya tidak mengalami kesulitan keuangan.

Hasil survey keuangan yang pernah dilakukan di Amerika terhadap mereka yang berusia 65 tahun, adalah sebagai berikut:

  • 45% responden menyatakan keuangannya tergantung pada sanak saudaranya.
  • 30% tergantung kebaikan orang lain.
  • 23% masih bekerja
  • 2% yang mandiri secara financial

Kemudian fakta juga menunjukkan bahwa 11 dari 12 perempuan akan menjadi janda pada usia rata-rata 52 tahun. 80% orang Amerika berhutang lebih dari harta yang mereka miliki. 20% dari pendapatan digunakan untuk melunasi hutang barang-barang konsumsi. 35% pernikahan Kristen berakhir dengan perceraian dan uang adalah alasan utamanya. 80% lebih orang Amerika hidup pas-pasan dengan gaji mereka.

Berdasarkan hasil survey tersebut dapat kita simpulkan bahwa mengelola keuangan dengan baik itu sangat penting dilakukan sedini mungkin. Untuk itu pada kesempatan ini kita akan membahas sedikit tentang mengelola keuangan secara praktis.

II. PANDANGAN ALKITAB TERHADAP UANG

Ada beberapa hal yang harus kita fahami tentang uang menurut cara pandang Alkitab.

1. Uang hanya sebagai alat untuk memenuhi berbagai kebutuhan

Pkh 7:12 berkata, “Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang…” Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kita membutuhkan uang. Uang menjadi sarana yang sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap kemiskinan dan berbagai masalah yang diakibatkan oleh kemiskinan. Dengan uang kita dapat menyatakan kasih dan kepedulian kita terhadap sesama (1 Tim 5:8; Kis 20:35). Meskipun uang mempunyai peranan penting untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun uang bukanlah segala-galanya, banyak segi di dalam kehidupan manusia yang tidak dapat diukur dan digantikan oleh uang.

2. Uang tidaklah jahat

Rasul Paulus menjelaskan bahwa uang itu sendiri tidaklah jahat, cinta uanglah yang jahat. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Tim 6:10). Perbedaan dari keinginan yang normal akan uang dan cinta akan uang dapat dijelaskan dengan perbedaan nyala api kecil dengan nyala api yang sangat besar. Nyala api kecil/normal dapat dipakai untuk memasak makanan, tetapi nyala api besar dapat melalap habis sebuah hutan. Keinginan yang normal akan uang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup, akan memotivasi kita untuk bekerja dan mendapatkan uang. Sedangkan cinta akan uang akan mendorong seseorang untuk melakukan apa saja demi uang. Jangan biarkan diri kita diperhamba oleh uang, tetapi biarlah uang melayani kita dengan cara memandangnya hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita.

3. Uang memiliki keterbatasan

Meskipun Salomo memiliki kekayaan yang sangat besar, namun ia mengakui bahwa kelimpahan materi tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Ia menuliskan demikian, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia” (Pkh 5:9). Melalui uang kita dapat memiliki dan melakukan banyak hal yang kita inginkan, tetapi jangan lupa bahwa banyak pula yang tidak dapat dilakukan oleh uang. Kekayaan atau uang yang semakin bertambah akan memperbudak orang yang cinta akan uang. Inilah yang Yesus maksudkan dengan “tipu daya kekayaan” di dalam Matius 13:22. Mereka tertipu karena ternyata di dalam kekayaan/uang yang mereka kerja mati-matian, ternyata tidak mereka temukan kepuasan dan kebahagiaan. Keterbatasan uang memang tidak dapat membeli kepuasan dan kebahagiaan, apalagi keselamatan.

4. Tuhan tidak melarang orang menjadi kaya.

Pada zaman Alkitab, sudah ada orang kaya maupun orang miskin. Paulus tidak memerintahkan kepada Timotius untuk menyuruh orang kaya meninggalkan kekayaan mereka dan menjadi miskin. Yang ia lakukan adalah menyuruh Timotius menasihati orang-orang kaya untuk membangun sikap yang benar terhadap kekayaan. “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Tim 6:17-19). Perhatikan juga ayat ini “Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah” (Maz 49:17).

III. MENGAPA HARUS MENURUTI FIRMAN TUHAN DALAM MENGELOLA KEUANGAN

1. Firman Tuhan menyinggung semua aspek hidup kita termasuk mengenai pemakaian uang (Maz 119:105)

2. Uang yang kita miliki penting bagi kehendak Allah.

3. Kita mendapatkan uang karena kekuatan dari Allah (Ul 8:18, Ams 10:22).

4. Uang yang dipakai secara salah akan membawa dampak kesedihan, kecelakaan dan kebinasaan (1 Tim 6:9-10, 1 Yoh 2:16).

5. Uang bisa menjadi barometer dari kehidupan rohani kita (Mat 6:21).

IV. TERAMPIL MENGELOLA KEUANGAN

1. Terampil menghasilkan Uang (Making Money)

Jadilah orang yang produktif, yang menghasilkan uang dengan cara yang baik supaya kita dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah” (Titus 3:14). Menurut survey, pendapatan orang yang bekerja atau kaum professional mencapai puncak pada usia 47.5 tahun dan menurun cepat setelah usia 54 tahun. Karena itu kita harus terampil mengelola keuangan pada saat kita sangat produktif, supaya di usia pensiun nanti kita tidak menjadi susah karena masalah keuangan. Rasul Paulus bekerja untuk menghasilkan uang guna memenuhi kebutuhan hidup dan pelayanan yang dikerjakannya. “Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.” (Kis 20:34). Bahkan Rasul Paulus memberikan peringatan yang sangat tegas dalam 2 Tes 3:10-12, bahwa jika ada orang yang tidak mau bekerja janganlah hendaknya ia makan! Dengan kata lain, Rasul Paulus memperingatkan kita untuk tidak menjadi “benalu” bagi orang lain.

2. Terampil Menggunakan Uang (Spending Money)

Untuk mengelola keuangan secara baik dan benar, kita perlu memahami cara penggunaan uang yang benar. Penggunaan uang yang benar menunjukkan rasa tanggungjawab, sekaligus ucapan syukur kita kepada Tuhan sebagai pemberi berkat, John Wesley pernah menyatakan bahwa ada 3 prinsip penggunaan uang. Pertama, cari uang sebanyak yang bisa kita dapatkan, tentu dengan cara yang benar dan tidak merugikan sesama. Kedua, simpanlah sebanyak yang bisa kita simpan. Ketiga, berilah sebanyak yang bisa kita beri.

Penggunaan uang yang benar dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu.

  1. Penggunaan Uang Untuk Pekerjaan Tuhan

Tuhan telah menetapkan agar umat-Nya memberikan 10% dari penghasilan mereka kepada-Nya sebagai wujud kasih, ketaatan, peduli dan iman kepada-Nya. Baca dan renungkanlah ayat-ayat penuntun berikut ini:

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. (Ams 3:9-10)

“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.” (Mal 3:10-11).

Tuhan sudah mengatur bahwa biaya hidup mereka yang melayani pekerjaan Tuhan ditanggung secara bersama-sama oleh jemaat melalui persembahan persepuluhan. Tuhan mengikat perintah-Nya dengan memberikan janji-janji untuk memberkati mereka yang taat dan setia. Oleh karena itu, langsung sisihkan 10% dari berkat atau penghasilan yang kita terima sebagai persembahan persepuluhan yang kita serahkan ke rumah Tuhan. Persembahan persepuluhan ini selain merupakan bentuk kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan, juga merupakan benih baik yang harus segera kita tabur.

  1. Untuk Keluarga Dan Diri Sendiri

Setiap orang yang telah berjerih lelah bekerja, tentu berhak menikmati hasil kerjanya untuk kepentingan dirinya secara wajar dan memang yang bermanfaat. Khususnya bagi pria sebagai kepala keluarga, ia mempunyai kewajiban untuk mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Demikian juga dengan seorang anak yang kedua orang tuanya sudah tidak mampu lagi untuk bekerja, maka dia berkewajiban menopang kebutuhan orang tuanya.

“Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.” (Yes 55:2)

“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” (1 Tim 5:8).

Biasakanlah membuat anggaran belanja bulanan dalam hidup kita, mulai dari biaya makan, sewa/cicilan rumah, pendidikan, rekening telepon/listrik, kebutuhan transportasi, membeli sabun, shampo, kosmetik, dan kebutuhan rutin lainnya. Ketika menerima gaji, segera pisahkan uang untuk pemenuhan kebutuhan ini dengan cara memasukkan uang itu ke dalam amplop kebutuhan yang berbeda. Hal ini akan membatasi kita untuk menarik uang dari rekening bank atau mesin ATM karena dananya sudah kita sisihkan. Belajarlah untuk tidak membeli suatu barang di luar “daftar belanja bulanan”. Masukkan barang-barang yang ingin kita beli ke dalam “daftar” bulan berikutnya. Anggaran belanja bulanan ini akan sangat membantu kita untuk mengalokasikan uang yang kita miliki. Dengan menyusunnya berdasarkan skala prioritas, maka kebutuhan yang penting dan mendesak akan tercukupi. Miliki juga kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

  1. Untuk Sesama

Tuhan menginginkan agar berkat yang kita terima juga digunakan untuk membantu mereka yang betul-betul kita ketahui memerlukan pertolongan, sebagai wujud kasih kita kepada sesama. Ingatlah bahwa kita adalah pengelola atas berkat yang Tuhan percayakan, bukan pemilik. Jika kita menyadari bahwa kita adalah pengelola berkat (stewardship), maka kita tidak akan menjadi orang yang pelit dan menikmati kelimpahan itu sendirian. Pemahaman yang benar bahwa kita bukan pemilik (owner) atas berkat yang kita terima, akan membuat kita memperhatikan mereka yang susah, yang ada di sekitar kita. Tuhan Yesus menjelaskan hal ini lewat perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37).

Firman Tuhan selalu mengajar kita untuk hidup berbagi dengan sesama, sebagai wujud nyata kasih kita kepada Tuhan. Kasih itu memberi dan kita tidak dapat memberi jika kita tidak bekerja untuk mendapatkannya. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan." (2 Kor 8:14-15). John Wesley berkata, “Jika saya mempunyai uang, saya akan memberikannya secepat mungkin sehingga uang tersebut tidak berada dalam hati saya.” Sepanjang hidupnya Wesley telah memberikan sekitar 10 juta poundsterling yang dihasilkan selama hidupnya, teladanilah!

3. Terampil Menyimpan Uang (Saving Money)

Salomo mengajarkan kita untuk menyimpan pada masa panen, seperti yang dilakukan oleh koloni semut. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” (Ams 6:6-8).

Kita perlu menyimpan sebagian dari apa yang kita dapatkan untuk digunakan pada waktu ada kebutuhan tak terduga, misalnya jika suatu saat nanti terjadi PHK, jika terserang sakit yang membutuhkan biaya yang cukup besar, ketika kita terkena musibah, atau keadaan tidak enak lainnya ang tidak bisa kita hindari. Yusuf juga melakukan prinsip menyimpan di musim panen besar selama 7 tahun untuk masa kelaparan sepanjang 7 tahun berikutnya (Kej 41:46-57). Keterampilan menyimpan kelimpahan yang dimiliki Yusuf ini telah menyelamatkan hidup banyak orang dari kelaparan yang hebat pada masa itu.

Kalau memungkinkan, sisihkan 20% dari gaji pokok kita. 10% pertama untuk simpanan yang akan digunakan pada masa sukar/sakit/paceklik, dan 10% lagi untuk dikumpulkan sebagai modal yang akan diinvestasikan beberapa tahun yang akan datang atau sebagai dana masa pensiun kita. 10% pertama disimpan di rekening tabungan yang terpisah dari rekening sehari-hari. Untuk tabungan/simpanan khusus ini usahakan tidak menggunakan kartu ATM (Anjungan Tunai Mandiri), karena uang ini hanya boleh diambil pada waktu kita sangat kesulitan atau akan membuka usaha sampingan guna menambah penghasilan kita. Yang 10% kedua bisa disimpan berupa asuransi yang bersifat proteksi-investasi berjangka, agar di hari tua kita tidak tergantung pada belas kasihan orang lain.

4. Terampil Menanam Uang (Investing Money)

Pkh 11:1-2. Tanamlah uangmu dalam usaha di luar negeri. Pasti kaudapat untung di kemudian hari. Tanamlah modalmu di berbagai niaga; carilah usaha sebanyak-banyaknya. Sebab orang perlu waspada, sebelum musibah menimpa.” Ayat terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari (BIS) ini mengajarkan kita untuk terampil dalam berinvestasi.

Uang yang dialokasikan untuk menabung sudah seharusnya masuk dalam perencanaan keuangan kita. Kebiasaan menabung akan sangat membantu jika kebutuhan-kebutuhan tak terduga muncul dengan tiba-tiba. Selain menabung, alangkah baiknya jika kita bisa menyisihkan keuangan kita untuk melakukan investasi yang pada akhirnya akan memberikan tambahan penghasilan bagi kita. Apabila uang yang kita tabung sedikit demi sedikit itu sudah menjadi banyak pada 3 sampai 10 tahun mendatang, carilah ide untuk menggandakan uang itu. Kelolalah uang tabungan itu secara terampil sesuai dengan pengetahuan atau bidang usaha yang kita senangi. Investasikan uang yang ada untuk menambah pendapatan kita, sehingga perekonomian kita semakin mandiri. Pada masa produktif kita dapat melihat peluang usaha untuk meningkatkan pendapatan, sejauh itu tidak menggangu tanggung jawab di tempat kerja kita sekarang. Yesus mengajarkan supaya kita terampil di dalam menginvestasikan uang kita melalui “perumpamaan tentang talenta” Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.” (Mat 25:27).

5. Terampil Menikmati Uang (Enjoying Money)

Salomo di dalam Pkh 5:18 mengatakan bahwa dapat menikmati kekayaan, harta benda dan kuasa yang dimiliki seseorang juga merupakan karunia dari Tuhan. “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah”. Tidak ada yang salah di dalam menikmati berkat-berkat yang sudah Tuhan berikan kepada kita sejauh kita menikmatinya secara bertanggung jawab. Sebagai orang percaya tentu saja kita tidak boleh menikmati harta benda kita dengan cara-cara seperti berfoya-foya, berjudi, atau melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Kita dapat menikmati uang kita dengan cara yang benar, misalnya dengan berekreasi bersama keluarga, melakukan hobi kita yang baik dan bermanfaat. Secara ilmiah, orang yang secara teratur dapat melakukan dan menikmati hobinya, dapat menjaga kebugaran ingatannya. Kita akan menjadi orang yang berbahagia apabila kita juga dapat menikmati berkat-berkat yang Tuhan sudah percayakan kepada kita, oleh karena itu, nikmatilah berkat yang Tuhan curahkan di dalam hidup kita.

V. MEMAHAMI POLA HIDUP SEDERHANA

Terampil mengelola keuangan sangat ditunjang bila kita memahami dan menerapkan pola hidup yang sederhana. Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam keadaan serba kekurangan, tetapi hidup yang dapat menguasai keadaan dan tidak terbawa arus dunia. Saat ini ada begitu banyak penawaran barang-barang yang bukan merupakan kebutuhan kita. Ini merupakan belalang-belalang pelahap yang siap menghabiskan berkat-berkat yang Tuhan curahkan ke dalam hidup kita. Di sinilah kita harus bersikap tegas terhadap diri sendiri dengan menolak belalang-belalang pelahap ini, supaya kita tidak menjadi konsumtif, tetapi belajar mencukupkan diri sesuai kebutuhan kita. Inilah yang diajarkan Rasul Paulus di dalam Filipi 4:11-13 “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku

Bukankah kebebasan financial lebih penting dari pamer status sosial? Latihlah diri kita supaya terampil untuk mengelola keuangan, karena ini akan menjauhkan kita dari banyak kesulitan di masa mendatang! Tuhan Yesus memberkati.

--oo0oo—

E-mail: cecep_soeparman@yahoo.com.

Blogspot. CECEPSOEPARMAN.blogspot.com

FB: Cecep Soeparman.

Tidak ada komentar: