PRINSIP KHOTBAH ALKITABIAH
”Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor 4:20)
I. PENDAHULUAN
Pelayanan berkhotbah dan mengajar menduduki posisi sentral dalam Alkitab. Nabi-nabi dalam PL dan Rasul dalam PB menggunakan sebagian besar waktu pelayanan mereka untuk mengajar dan berkhotbah. Pelayanan khotbah sangat penting di dalam gereja dan harus menjadi fokus utama seorang gembala sidang setelah doa. Kis 6:3-4 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Pada kesempatan ini kita akan membahas prinsip-prinsip khotbah Alkitabiah sehingga siapa pun yang bertugas untuk berkhotbah diharapkan memahami prinsi-prinsip berkhotbah yang benar.
II. ISTILAH DAN DEFINISI
Khotbah bahasa Yunaninya: Homilein artinya berada bersama-sama, bergaul atau persekutuan, kontak dengan orang lain, pergaulan, bercakap-cakap, pembicaraan. Kata benda: Homilia artinya suatu percakapan atau suatu ceramah. Jadi, khotbah adalah bercakap-cakap atau berbicara dengan seseorang atau beberapa orang. (Bdg Luk 7:1 Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum). Yesus sering kali berbicara dengan orang banyak.
Homiletika adalah ilmu dan seni mempersiapkan dan menyajikan khotbah. Ilmu berkhotbah adalah ilmu yang secara sistimatis mempersiapkan struktur khotbah dan mengandung unsur seni di dalam penyampaiannya.
Menurut Charles W. Koller khotbah adalah kesaksian pribadi dengan tujuan menyampaikan iman dan keyakinan. Khotbah adalah “tempat bertemunya jiwa seseorang dengan Allah” dan berusaha menyalurkan kasih karunia Allah kepada orang yang percaya maupun yang tidak percaya.[1] Khotbah berbeda dengan pidato. Pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang disampaikan kepada orang banyak. Berpidato adalah menyampaikan hasil pikiran si pembicara yang ditujukan kepada orang banyak untuk menyatakan suatu maksud.
Dalam Perjanjian Lama, yang disebut pengkhotbah adalah Nabi, Ibrani: Nabhi, Yunani: Prophets artinya orang yang dipanggil (oleh Tuhan). Dalam Perjanjian Baru pengkhotbah adalah Rasul, Yunani: Apestalmenos, orang yang diutus Allah.
Menurut William Evans, pengkhotbah adalah orang yang dikhususkan oleh Allah untuk melakukan pemberitaan Injil. Ia menerima kebenaran dari Allah dan menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain.[2]
Berkhotbah adalah memberitakan kabar kesukaan, dilakukan oleh seorang manusia dan ditujukan kepada sesamanya. Terdiri dari 2 unsur: manusia dan berita, - kepribadian dan kebenaran.[3]. Dalam PB ada 3 istilah pelayanan berkhotbah: Kerusso: memproklamasikan, mengumumkan, memaklumatkan. Euanggelizomai: Memberitakan Injil dan Didasko: mengajar.
Alkitab mengatakan seorang pengkhotbah hanyalah bejana tanah liat. 2 Kor 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
III. BEBERAPA PRINSIP KHOTBAH ALKITABIAH
Mengetahui prinsip dalam suatu kegiatan sangat penting, karena prinsip adalah asas atau dasar yang dijadikan pegangan atau dijadikan dasar suatu tindakan. Seorang pengkhotbah sebelum dia menyampaikan khotbah seharusnya mengerti prinsip khotbah yang Alkitabiah, karena berkhotbah berbeda dengan berpidato.
1. Pengkhotbah Harus Melibatkan Tuhan
Ada dua unsur dalam khotbah yaitu manusia dan berita atau kepribadian dan kebenaran seperti diuraikan di atas, sehingga si pengkhotbah harus melibatkan Tuhan si Empunya kebenaran. Kita harus bekerja sama dengan Allah si Empunya Firman. (1 Kor 3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.)
Dalam Matius 4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Firman itu berasal dari Allah, si penyampai firman harus terhubung dengan Allah. Dalam Kis 6:4, Para Rasul mengatakan bahwa mereka harus memusatkan pikiran pada dua hal yaitu doa dan Firman.
Dalam mempersiapkan khotbah seorang pengkhotbah memerlukan pertolongan Roh Kudus, karena ada tiga macam pekerjaan Roh Kudus yang kita perlukan sehubungan dengan kita mempersiapkan Firman Tuhan: 1) Revelation/ Mewahyukan (1 Kor 2:10). 2). Ilumination / Menerangi (Ef 1:8-9). 3). Inspiration/mengilhami (2 Pet 1:21). Contoh: Petrus yang penuh Roh Kudus (Kis 2:4), berkhotbah di depan orang Yahudi, apa yang terjadi, pertobatan. Kis 2:37 Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"
Tanpa pekerjaan Roh Kudus, khotbah menjadi hal yang menjemukan. Yoh 15:5b di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
2. Pengkhotbah Harus Tinggal Di dalam Firman
Berpidato adalah menyampaikan pokok pikiran sendiri atau konsep sendiri sedangkan berkhotbah adalah menyampaikan Firman Tuhan, sehingga si pengkhotbah harus terlebih dahulu hidup di dalam firman. Artinya ia sendiri sudah membaca, merenungkan dan melakukannya sebelum ia membagikan atau mengkhotbahkan. Alkitab harus menjadi sumber utama pemberitaan. (2 Tim 3:16-17), sumber yang harus dipelajari dan dipraktekkan. Yoh 8:31-32 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
Yoh 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Mengapa kita harus jadi orang yang pertama-tama melakukan firman Tuhan? Karena dengan melakukan firman Tuhan, hidup kita akan jadi kesaksian. Seperti yang dikatakan oleh Charles W. Koller khotbah adalah kesaksian pribadi dengan tujuan menyampaikan iman dan keyakinan.[4] Pengkhotbah besar seperti D.L Moody, John Wesley, John Sung, Billy Graham dan lain-lain, mereka membaca Alkitab setiap hari dan berusaha mempraktekkannya dalam hidup mereka. Mereka sadar karena ini adalah prinsip khotbah yang sesuai dengan Alkitab (Alkitabiah). Ingat tabiat seorang pengkhotbah sangat menentukan efektifitas khotbahnya. Kis 11:23-24 Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.
Mengapa Yesus mengajar dengan penuh otoritas berbeda dengan ahli Taurat. Markus 1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Ahli Taurat berkhotbah dan mengajar tapi tidak melakukan apa yang mereka khotbahkan dan ajarkan. Matius 23:2-3 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
Kebenaran itu janganlah hanya terbit dari mulut, melalui bibir dan masuk di otak, akan tetapi harus keluar dari watak dan kepribadian. Seluruh budi pekerti dan sifat rohani haruslah dikuasai oleh kebenaran.[5]
3. Khotbah Harus Dipersiapkan
Prinsip yang ke-3 adalah persiapan. Sehebat apapun seorang pengkhotbah, ia harus mempersiapkan bukan saja bahan yang harus disampaikan tetapi juga dirinya. Ia harus mempersiapkan rohaninya, mentalnya dan fisiknya. Kesehatannya harus terjaga. Seorang pengkhotbah harus mempunyai kesehatan badan yang sebaik-baiknya.[6] Sekalipun ia menguasai bahan yang akan disampaikan jika ia dalam keadaan sakit maka ia tidak akan maksimal dalam menyampaikan khotbahnya. William Barclay seorang pengkhotbah dan penafsir Alkitab terkenal mengatakan ”Jikalau seseorang secara fisik sehat dan menjaganya untuk tetap sehat, maka tubuhnya akan siap untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi, tetapi kalau ia mengabaikan kesehatan badannya, maka ia akan kehilangan kesanggupan-kesanggupan yang sudah ia punyai.[7]
Peralatan yang harus dimiliki oleh seorang pengkhotbah dalam mempersiapkan khotbah: Alkitab sebagai sumber utama dengan berbagai versi bahasa, Kamus Alkitab, Konkordansi Alkitab, Ensiklopedia Alkitab, Penuntun/Pengantar/Pembimbing Alkitab PL dan PB, Buku Tafsiran, Atlas Alkitab dan Altas Dunia, Arkeologi dan Sejarah Alkitab dan buku-buku lain yang menunjang.
4. Memahami Ide Besar
Di dalam suatu kebaktian kemampuan mendengar dan menangkap masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang bisa menangkap banyak ide, tetapi ada juga dan umumnya sebagian besar tidak mampu memahami banyak ide atau banyak konsep. Karena itu seorang pengkhotbah harus memahami prinsip yang ke-4 ini yaitu memahami ide besar. Ide besar atau ide utama atau proposisi, tema atau pikiran utama. Maz 45:2 ”My heart is overflowing with a good theme” (NKJV).
Suatu khotbah seharusnya tampak seperti sebutir peluru kecil dan bukan sebagai mortir. Idealnya setiap khotbah merupakan suatu penjelasan, interpretasi atau aplikasi dari suatu ide tunggal yang dominan yang disokong oleh ide-ide yang lain dan semuanya itu diambil dari sebuah atau beberapa perikop Alkitab.[8]
Ide dalam bahasa Inggeris berasal dari bahasa Yunani eido, yang berarti ”melihat” dan karena itu ”mengetahui”. Menurut kamus Webster, ide adalah ”sesuatu yang sungguh ada secara transenden yakni suatu pola yang nyata di mana hal-hal yang ada dihadirkan secara tidak sempurna” hingga ”sesuatu yang sungguh-sungguh ada (seperti pikiran, konsep, sensasi atau kesan) yang sungguh-sungguh hadir atau secara potensial hadir dalam kesadaran.[9] Dalam percakapan sehari-hari ketika kita mendengar suatu penjelasan dan membuka wawasan kita, kita berkata ”Oh, saya tahu apa yang kamu maksud!”. Itulah ide. Sinonim untuk kata ide adalah konsep yang berasal dari kata kerja ”menyusun”. Suatu ide juga berawal dalam pikiran ketika hal-hal biasa yang terpisah-pisah secara bersama-sama membentuk suatu kesatuan yang sebelumnya tidak ada atau belum dikenali.
Seorang pengkhotbah yang berpengalaman memahami bahwa komunikasi yang efektif memerlukan suatu tema tunggal. Para ahli retorika mendukung sepenuhnya pendapat ini, karena ini ada prinsip yang penting. Para ahli retorika juga sepakat bahwa sebuah khotbah, sebagaimana sebuah tuturan yang baik mengandung sebuah konsep tunggal yang mendasari seluruh tuturan. Setiap khotbah hendaknya hanya memiliki satu ide utama. Poin-poin dan sub-sub bagian yang lain harus menjadi bagian dari satu ide utama tersebut. Sama seperti memotong roti yang besar menjadi irisan-irisan yang sedemikian rupa sehingga enak dan mudah dicerna. Demikian juga poin-poin suatu khotbah haruslah merupakan bagian-bagian yang lebih kecil dari tema utama tersebut, yang kemudian dipilah-pilah menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil sehingga gampang dicerna pikiran dan dapat diterapkan dalam kehidupan. Dengan kata lain setiap khotbah harus memiliki sebuah tema, dan tema ini haruslah merupakan tema dari perikop sebuah Alkitab yang menjadi dasar khotbah.
Khotbah yang siap disampaikan harus dapat diungkapkan dalam sebuah rumusan kalimat singkat yang benar sebening kristal. Harus diakui menemukan kalimat yang demikian merupakan tugas yang paling berat, paling sukar tetapi paling bermanfaat.
5. Harus mempertimbangkan kesanggupan sendiri dalam memahami ayat Alkitab.
Prinsip ini sering dilanggar dengan alasan nanti mengalir saja. Memang benar, Roh Kudus dapat memberikan penerangan sementara kita membaca sebuah ayat sehingga kita dapat menjelaskan kepada jemaat. Tetapi perlu diingat bahwa kita memiliki beberapa keterbatasan dalam memahami bagian-bagian Alkitab. Kalau saya boleh menganaloginya, tidaklah pantas kalau Daud pergi melawan Goliat dengan memakai baju zirah Saul. Ia akan kedodoran dan sulit bergerak. Janganlah memilih pokok-pokok yang pelaksanaannya di luar kesanggupan kita sendiri. Perahu yang kecil, janganlah berlayar jauh-jauh dari pantai, jangan-jangan nanti tenggelam. Hal ini bukan berarti melarang kita untuk mengerjakan pokok yang lebih tinggi dari pada yang telah kita capai, bukan itu maksudnya. Kalau demikian halnya, maka pengalaman hidup dan berkhotbah tidak akan berkembang. Tetapi yang dimaksudkan pada prinsip ke-5 ini adalah sebelum memberitakan suatu pokok, kita sendiri harus mengerti dengan jelas, apa yang akan disampaikan itu.
Sebaiknya jangan mengkhotbahkan tema-tema yang sedang menjadi perdebatan, misalnya tentang ”Penginjilan kepada orang mati, Keselamatan Yudas Iskariot dan lain sebagainya.
Dalam memilih nats, berpeganglah kepada tiga hal berikut: 1) Lingkaran kebenaran yang diberitakan sebelumnya atau keterkaitan dengan khotbah-khotbah sebelumnya. 2) Kebutuhan para anggota jemaat. 3) kesanggupan diri sendiri dalam hal menyajikan pokok berita.
--o0o--
[1] Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1995, hlm. 14.
[2] William Evans, Cara Mempersiapkan Khotbah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm. 10.
[3] Ibid. hlm. 9.
[4] Charles W. Koller. Loc. Cit.
[5] William Evans, Op. Cit. hlm. 10.
[6] Ibid., hlm. 17.
[7] William Barclay, Pemahaman Alkitab Sehari-hari Injil Lukas, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, hlm. 144.
[8] Haddon W. Robbinson, Cara Berkhotbah Yang Baik, Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997, hlm. 37.
[9] Ibid., hlm.43.
0 komentar:
Poskan Komentar