Minggu, 30 Januari 2011

MEMPERSIAPKAN KHOTBAH SECARA PRAKTIS

MEMPERSIAPKAN KHOTBAH SECARA PRAKTIS

(Oleh: Pdt. Cecep Soeparman, disampaikan pada Mini Training GBI Filemon, tgl 23 Maret 2010)

”Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah”

(2 Kor 5:20)

I. PENDAHULUAN

Pelayanan berkhotbah dan mengajar menduduki posisi sentral dalam Alkitab untuk itu perlu dipersiapkan dengan baik. Segala sesuatu yang dipersiapkan dengan baik dapat dipastikan hasilnya lebih baik dibandingkan jika hal itu dikerjakan secara mendadak. Mempersiapkan sebuah khotbah bukanlah hal yang mudah terlebih bagi seorang yang belum mempunyai pengalaman dalam pelayanan khotbah. Kalau kita perhatikan cara kerja Allah Bapa, maka kita menjumpai suatu pola yaitu adanya persiapan. Sebelum Allah menciptakan manusia Ia terlebih dahulu mempersiapkan segala hal yang diperlukan manusia. Sebuah khotbah yang baik harus dipersiapkan sebelumnya sehingga jemaat yang mendengar dapat mengerti dan mengaplikasikannya dalam hidup mereka. Untuk mempersiapkan sebuah khotbah yang disampaikan hanya kurang lebih satu jam, seorang pengkhotbah harus menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Di tengah kesibukan pelayanan seorang pendeta dituntut untuk menghasilkan khotbah dengan tema yang baru pada hal waktu yang ada sangat terbatas. Untuk itu dalam kesempatan pelatihan ini penulis akan memberikan petunjuk praktis bagaimana mempersiapkan khotbah. Apa yang penulis uraikan di makalah ini, masih berhubungan dengan makalah sebelumnya yaitu makalah tentang ”PRINSIP KHOTBAH ALKITABIAH”

II. MENENTUKAN IDE BESAR ATAU TEMA

Di dalam makalah sebelumnya yaitu “Prinsip Khotbah Alkitabiah” penulis menjelaskan salah satu prinsip khotbah Alkitabiah yaitu “Seorang Pengkhotbah Harus Memahami Ide Besar atau ide utama atau tema”. Sebelum seorang pengkhotbah mempersiapkan sebuah khotbah, ia harus tahu ide besar atau tema yang akan dibahasnya.

Tema dapat ditentukan oleh gereja atau institusi yang mengundang pengkhotbah. Jika tema sudah ditentukan, pastikan Anda memahaminya dengan baik. Bila kurang jelas, minta penjelasan dan ayat yang menunjang tema tersebut. Perlu diingat sumber ide besar harus berasal dari Alkitab.

Penulis pernah diminta untuk membahas tema ”Apakah Mungkin” dengan sumber ayat Luk 17:1-6. Penulis minta penjelasan kepada yang memberikan tema, ternyata tema yang ingin disampaikan adalah ”Apakah Mungkin Mengampuni Tujuh Kali Sehari?” Sebab tema ”Apakah Mungkin” belum jelas, perlu diperjelas sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan. Biasanya sebuah tema terdiri dari satu atau beberapa variabel. Contoh: ”Keluarga Yang Beribadah Kepada Allah”. Tema ini terdiri dari satu variabel. Contoh lain ”Pengaruh Teladan Orang Tua terhadap Pertumbuhan Rohani Anak” Tema ini mempunyai dua variabel. Variabel pertama adalah teladan orang tua dan variabel kedua adalah pertumbuhan rohani anak. Dengan memahami tema, seorang pengkhotbah dapat mempersiapkan uraian yang sesuai dengan tema sehingga tidak melenceng. Jika tidak memahami tema kemungkinan besar tema dengan uraian tidak nyambung. Untuk memahami tema, kita dapat mengajukan pertanyaan: Apa? Siapa? Dimana? Kapan? Mengapa? Bagaimana? (Gunakan pola 4W+1H = What, Who, Where, When, Why, How)

Jika tema tidak ditentukan, artinya diserahkan kepada si pengkhotbah, hal pertama yang harus dilakukan si pengkhotbah adalah berdoa meminta petunjuk Tuhan. Pengkhotbah adalah perpanjangan tangan Tuhan yang harus menyampaikan isi hati-Nya. Dia lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh pendengar. Selain itu pengkhotbah juga bisa menanyakan kebutuhan jemaat yang mengundang sehingga mendapat gambaran atau perkiraan. Walau pun demikian, kita tetap harus melibatkan Tuhan dalam menentukan tema. Hal ini sesuai dengan prinsip khotbah Alkitabiah yaitu ”Pengkhotbah Harus Melibatkan Tuhan”

Alkitab mengatakan seorang pengkhotbah hanyalah bejana tanah liat. 2 Kor 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

III. PETUNJUK PRAKTIS MEMPERSIAPKAN KHOTBAH

1. Membaca Perikop atau ayat dasar untuk tema.

Kita harus membaca beberapa kali perikop atau ayat dasar untuk tema khotbah sampai kita mengerti dan menangkap maknanya. Renungkan dengan mengajukan beberapa pertanyaan (Gunakan Pola 5W+1H seperti disebutkan diatas). Minta petunjuk Roh Kudus, sesuai dengan peran-Nya, Roh Kudus akan menolong kita dalam tiga hal: 1) Revelation/ Mewahyukan (1 Kor 2:10). 2). Ilumination / Menerangi (Ef 1:8-9). 3). Inspiration/mengilhami (2 Pet 1:21).[1]

Perlu diingat bahwa seorang pengkhotbah itu menyampaikan firman Tuhan, yang disampaikan bukan pengertiannya sendiri beda dengan pidato. Berpidato adalah menyampaikan hasil pikiran si pembicara yang ditujukan kepada orang banyak untuk menyatakan suatu maksud. Jadi, pengkhotbah harus menggali ayat-ayat Alkitab yang menjadi dasar untuk tema sehingga keluar makna yang dimaksudkan oleh Alkitab itu yang bisa diterapkan oleh pendengar saat ini. Ini yang disebut dengan eksegese. Yunani: Exegesis artinya menggali. Menggali maksud para penulis Alkitab dalam konteks aslinya (apa yang dimaksudkan oleh teks pada masanya), untuk kepentingan hidup masa sekarang atau apa arinya bagi kita yang hidup sekarang.

Gunakan peralatan yang diperlukan dalam mempersiapkan khotbah selain Alkitab yaitu Alkitab dengan berbagai versi bahasa, Kamus Alkitab, Konkordansi Alkitab, Ensiklopedia Alkitab, Penuntun/Pengantar/Pembimbing Alkitab PL dan PB, Buku Tafsiran, Atlas Alkitab dan Altas Dunia, Arkeologi dan Sejarah Alkitab dan buku-buku lain yang menunjang. [2]

Proses membaca ayat Alkitab ini dapat disebut juga sebagai penyelidikan Alkitab yang mencakup tiga hal yaitu observasi, interpretasi dan Aplikasi.

Observasi ialah menceritakan ulang satu perikop dengan kata-kata sendiri secara singkat dan lengkap, sehingga cerita atau firman Tuhan dapat dimengerti oleh orang-orang masa kini dan disesuaikan dengan keadaan orang-orang yang hadir. Observasi bukan hanya satu perikop saja tetapi bisa juga satu pasal.

Interpretasi adalah menafsirkan, menduga atau mengira kemungkinan-kemungkinan. Interpretasi dapat berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya di dalam perikop yang dibahas. Misalnya perikop Yohanes 2:1-11 Perkawinan di Kana. Pertanyaan yang harus ditanyakan ialah: Siapakah yang menikah di Kana? Ada 3 kemungkinan (jawaban) yang tidak usah kita persoalkan, sebab hal ini hanya interpretasi. Semua orang dapat mengambil bagian dalam menjawab. a) Salah seorang murid Tuhan Yesus. Alasannya, sebab Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya diundang ke perkawinan itu. b) Orang yang menikah masih satu keluarga dengan Maria. Alasannya, sebab Maria sangat aktif mengambil inisiatif. c) Salah seorang murid Yesus dan masih satu keluarga dengan Maria. Alasannya ada pada no. (a) dan (b). Pertanyaan lain: Mengapa Yesus berkata kepada Maria: ”Saat-Ku belum tiba?” Jawaban: Ada kemungkinan Yesus menunggu saat Bapa yang di Sorga. Pertanyaan: Bilamanakah terjadi mujizat air menjadi anggur?” Jawaban: (1) Pada saat air itu dicedok oleh pelayan (ayat 8). (2) Atau pada saat air itu dibawa oleh pelayan. (3) Atau mungkin pada saat pemimpin pesta mengecap air itu (ayat 9). Oleh karena semua jawaban hanya kemungkinan saja, semua mendekati kebenaran.

Aplikasi atau penerapan. Dari perikop perkawinan di Kana, kita dapat penerapan bahwa Doa, Iman dan ketaatan menghasilkan mujizat. Alasannya Maria datang dan berkata kepada Yesus, hal tersebut dapat diartikan sebagai doa. Maria menemui pelayan-pelayan dan berkata: ”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu”, hal tersebut dapat diartikan sebagai iman (ayat 5). Pelayan-pelayan menurut apa yang dikatakan Tuhan Yesus, hal tersebut dapat diartikan sebagai ketaatan (ayat 7,8).

Membaca perikop atau ayat yang menjadi dasar tema sangat penting dalam mempersiapkan khotbah Alkitabiah.

2. Sediakan Alat tulis dan buku atau lembar kertas

Kita harus mencatat inspirasi, pewahyuan, kalimat-kalimat bagus, kata-kata penting yang didapat dari pembacaan perikop atau ayat Alkitab yang menjadi dasar tema. Tanpa catatan Anda bisa lupa.

3. Menyusun Garis Besar Khotbah

Menyusun garis besar khotbah agar memudahkan dalam menyampaikan isi khotbah dan memudahkan pendengar untuk mengerti dan mengingat isi khotbah. Susunan garis besar khotbah dapat secara kronologis, sistematis atau dari yang mudah ke yang sulit, atau menggunakan metode induksi atau sebaliknya yaitu metode deduksi.

Metode Induksi adalah metode pemikiran yang bertolak dari kaidah (hal-hal atau peristiwa) khusus untuk menemukan hukum (kaidah) yang umum; penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan-keadaan yang khusus untuk dipelakukan secara umum; penentuan kaidah umum berdasarkan kaidah-kaidah khusus. Oleh karena itu, metode induksi dapat disebut sebagai suatu proses pemikiran dari fakta-fakta sampai kepada suatu kesimpulan. Metode induksi sering disebut metode penemuan.

Suatu garis besar yang baik hanya mempunyai satu pokok saja, terlalu banyak pokok akan sulit untuk menyampaikannya. Garis besar harus mempunyai kesatuan artinya setiap bagian mempunyai hubungan dengan tema atau bagian-bagian yang lain di dalam garis besar itu. Garis besar harus menuju ke klimaks artinya mengantarkan para pendengarnya ke tempat keputusan masing-masing pokok. Garis besar yang baik mempunyai pokok-pokok yang sejajar supaya mudah diingat baik oleh pengkhotbah maupun pendengarnya.[3]

4. Bagaimana Membuat Suatu Garis Besar Khotbah.

Garis besar khotbah harus menggunakan suatu bentuk yang pasti. Pengkhotbah sebaiknya menggunakan suatu sistem dengan cara mencantumkan nomor pada bagian khotbahnya. Sistem yang dianjurkan adalah angka Romawi bagi pokok dasar (I, II, III, IV dst). Kemudian angka pada bagian-bagian pokok besar itu (1, 2, 3 dst). Selanjutnya a, b, c dst. Untuk bagian-bagian selanjutnya (1), (2), (3), dan seterusnya.

Garis besar dimulai dengan menuliskan semua gagasan yang berhubungan dengan khotbah tersebut. Gagasan ditulis dalam bentuk kalimat yang singkat dan mudah dimengerti. Tujuannya agar mudah diingat oleh pengkhotbah dan pendengar.

Garis besar khotbah harus membagi tema ke dalam bagian-bagian dan urutan-urutan yang logis. Setiap pokok harus secara langsung dihubungkan dengan tema.

Dengan menggunakan garis besar yang sudah dibuat pengkhotbah sebaiknya mengkhotbahkan khotbah tersebut terlebih dahulu pada diri sendiri sebelum ia menyampaikannya kepada sidang jemaat atau pendengar (Rehersal). Hal akan membuat si pengkhotbah merasa nyaman dengan garis besar yang sudah dibuatnya dan bisa melakukan perbaikan bilamana diperlukan.

Jangan lupa pengkhotbah hendaknya menyimpan catatan-catatan atau garis besar khotbah itu dengan baik. Kemungkinan besar ia dapat menggunakan khotbah tersebut pada kesempatan-kesempatan yang lain.

IV. CONTOH GARIS BESAR KHOTBAH

Tema: WASPADAI MUSUH IMAN

Nats: Hakim 16:19-21; 25-26

I. PENDAHULUAN

1. Tema khotbah”Waspadai Musuh Iman dari perspektif kisah tragis Simson” membahas musuh iman dari ayat-ayat atau kebenaran firman Tuhan yang ada di dalam kisah Simson seorang hakim bangsa Israel. Hakim-Hakim 16:19-21; 25-27.

2. Fakta tentang iman:

a. Iman Bisa Hilang (Luk 18:8)

b. Iman Bisa Gugur (Luk 22:32)

c. Iman Bisa Kandas (1 Tim 1:19)

3. Jadi ada musuh iman yang harus diwaspadai karena musuh iman itu berusaha agar iman orang percaya hilang, gugur dan kandas.

II. TIGA MUSUH IMAN YANG HARUS DIWASPADAI

1. Meremehkan Firman Tuhan (Hakim 14:1-3)

a. Meremehkan Firman Tuhan adalah musuh utama dari iman.

b. Simson meremehkan nasihat orang tuanya yang adalah Firman Tuhan. (Ul 7:3-4)

c. Akibat orang yang meremehkan Firman Tuhan:

1) Menerima Balasan (Ams 13:13)

2) Mati rohani/iman (Ams 19:16)

Contoh: Kisah nyata. Tahun 1868 Olivia seorang gadis cantik yang takut akan Tuhan, jatuh cinta kepada Mark Twain yang tidak mengakui keberadaan Tuhan (Ateis).

d. Simson meremehkan Firman Tuhan dengan alasan yang sepele ”Ambilah dia bagiku, sebab dia kusukai”

e. Meremehkan hal yang penting sangat berbahaya. Ilustrasi: Mau terjun payung, lupa menarik tali parasutnya akan berakhir tragis.

f. Orang yang meremehkan yang penting, akan mengalami hal-hal yang genting.

g. Iman itu timbul waktu kita mendengar Firman Tuhan, jadi cara kita mendengar sangat penting. (Roma 10:17; Lukas 8:18)

h. Sering kali kita tanpa kita sadari kita meremehkan Firman Tuhan. Buktinya:

1) Kita hanya mau mendengar Firman Tuhan dari pendeta tertentu saja.

2) Tidak melakukan saat teduh

2. Mengabaikan Persekutuan dengan Tuhan (Hakim 16:19-20)

  1. Alkitab mencatat Simson berdoa hanya dua kali, itu juga waktu keadaan kepepet. Hak 15:18 16:28
  2. Bukti lain bahwa Simson mengabaikan persekutuan dengan Tuhan. Waktu ia memilih isteri, ia tidak bertanya dan minta petunjuk Tuhan. Simson memakai prinsip “yang penting saya suka”
  3. Sebagai nazir Allah yang dipimpin oleh Roh Allah (Hak 13:25) seharusnya ia melibatkan Tuhan dalam seluruh segi hidupnya. Apalagi untuk masalah memilih isteri. Simson memilih berdasarkan apa yang ia suka, bukan apa yang Tuhan suka.
  4. Beda dengan Yesus yang sangat memperhatikan persekutuan-Nya dengan Bapa di Sorga. Lukas 6:12-13
  5. Menurut Lukas 18:1,8 ada kaitan erat antara Doa dan iman.
  6. Doa merupakan benteng yang kokoh yang sangat sulit ditembus oleh kekuatan musuh (Mat 26:40).

3. Mengabaikan Suara Hati Nurani yang murni. (Hak 16:1; 1Tim 1:19)

a. Sebagai seorang Hakim atau Nazir Allah seharusnya Simson menjaga hati nuraninya tetap murni bukan malah menodainya dengan hidup serampangan dengan perempuan sundal.

b. Simson tidak peduli dengan hati nuraninya maka hidupnya tragis dan kandas. 1 Tim 1:19

c. Berbeda dengan Rasul Paulus yang senantiasa menjaga hati nuraninya tetap murni. Kis 24:16. Tidak heran Rasul Paulus bisa mengakhiri pertandingan imannya sampai akhir. 2 Tim 4:6-8.

d. Yesus sangat menekankan etika yang berhubungan dengan hati nurani. Ams 4:23; Mat 5:27-28.

e. Mengapa hati nurani yang murni itu penting?.

1) Diperlukan hati nurani yang murni waktu menghadap Allah. Ibr 9:14;. 10:22.

2) Hati nurani berfungsi untuk mengajar. Maz 16:7

f. Memiliki nurani yang murni tidak berarti bahwa kita tidak pernah berdosa atau tidak melakukan tindakan berdosa. Justru itu berarti bahwa arah dan tujuan pokok dari hidup ialah menaati dan menyenangkan Allah, sehingga semua tindakan berdosa akan terbiasa disadari sebagai dosa dan dipertanggungjawabkan kepada Allah (1 Yoh 1:9).

III. KESIMPULAN

Ada tiga musuh iman yang harus diwaspadai karena musuh ini yang menyebabkan iman kita hilang, gugur dan kandas. Ketiga musuh iman itu adalah

1. Meremehkan Firman Tuhan.

2. Mengabaikan Persekutuan dengan Tuhan.

3. Mengabaikan suara hati nurani.

Untuk itu mari kita hargai Firman Tuhan, Jangan kita mengabaikan persekutuan kita dengan Tuhan dan Jangan mengabaikan suara hati nurani kita supaya iman kita jangan hilang, gugur dan kandas. Tuhan Yesus memberkati!

--o0o--



[1] Cecep Soeparman, Makalah “Prinsip Khotbah Alkitabiah”, hlm. 2.

[2] Ibid., hlm. 3

[3] Yuyung Nehemia, “Berkhotbah”, Jakarta: Bethlehem Publiser, 2003, hlm. 42.

Tidak ada komentar: